Earn Money from Hobby and the excellence begins…

u Know…excellent is greater than best

Hobi Remaja Otomotif… June 2, 2008

Filed under: Uncategorized — 5excellent @ 11:12 am

Hobi Otomotif Remaja
Makin Seru, Makin Diminati

SALAH satu hobi remaja yang berkembang pesat banget belakangan ini adalah dari sektor otomotif. Buktinya di setiap elemen hobi tadi ada pelakunya. Mulai dari yang menguras waktu, tenaga, sampai uang.

HOBI otomotif di kalangan remaja tambah marak aja. Nggak cuma di Jakarta yang udah dianggap sebagai pusat penyebaran tren, tapi juga nyaris di seluruh kota besar di Indonesia. Malah bisa dibilang perkembangannya tuh nyaris merata. Buat bersaing pun nggak bakal kalah.

Sebenernya hobi otomotif udah ramai diminati sejak dekade ’80-an. Hanya saja para pelakunya masih terbatas dari kalangan tertentu aja. Pasalnya hobi ini termasuk mahal buat ukuran para remaja waktu itu. Apalagi yang belum mempunyai penghasilan sendiri. Jadinya yang emang pingin bermain-main di hobi ini tapi modalnya nggak cukup, harus cukup puas jadi penonton aja.

Mulai 10 tahun belakangan ini, bisa dibilang banyak remaja, terutama yang masih umuran sekolah, berani menggeluti hobinya di bidang otomotif. Bukan lantaran biayanya yang udah murah, tapi lantaran bertambah banyaknya fasilitas dan sarana yang mendukung kegiatan mereka. Ditambah lagi sama arus informasi yang masuk dari negara-negara yang menjadi acuan soal dunia otomotif yang sekarang jauh lebih lancar. Baik itu tayangan dari televisi, film, majalah, atau internet. Makin menjadi gara-gara rutinnya gelaran event-event otomotif dalam negeri, dan siapa aja bisa terlibat di situ, termasuk remaja sekolahan.

Meski informasi-informasi yang diserap dari berbagai media tadi nggak banyak yang bisa direalisasikan di sini, tapi sebagai referensi, hal itu termasuk penting. Contohnya aja siaran langsung balapan F1 dan GP500. Buat para pengagum kecepatan, tayangan ini jelas jadi menu wajib, terutama buat mencontoh skill dan performance para pembalap kelas dunia.

Lantas ada lagi informasi yang kemudian jadi referensi wajib para penggemar modifikasi. Informasi tersebut berasal dari film The Fast and The Furious dan sekuelnya, 2 Fast 2 Furious. Pada film tersebut diperlihatkan berbagai gaya modifikasi mobil yang rata-rata canggih semua. Makanya setelah film tersebut dirilis, banyak para modifikator yang mengubah tampilan mobil ala mobil-mobil yang ada di film tadi.

Nggak heran kalo hobi otomotif yang digeluti para remaja jadi makin seru. Belakangan, ketahuan juga kalo arus-arus informasi soal otomotif yang diserap tadi bikin para pelaku di sini makin kreatif melakoni hobinya. Jadinya dari hobi otomotif tadi muncul deh sejumlah elemen yang bisa dilakoni siapa aja, sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Melengkapi elemen yang udah ada sejak lama.

Elemen hobi otomotif yang dari dulu sampai sekarang tetap ada contohnya adalah kegiatan dalam bentuk komunitas, baik buat mobil maupun motor. Bisa dibilang kegiatan dengan cara berkomunitas ini adalah cara paling gampang dan nggak terlalu buang biaya. Paling banter, merelakan waktu dan pikiran aja buat mempertahankan keberadaan komunitas.

Sebenernya ada yang menganggap kegiatan komunitas otomotif tuh cuma buang-buang waktu. Pasalnya yang terlihat adalah cuma kegiatan kumpul-kumpul tanpa ada tujuan yang jelas. Padahal yang terjadi sebenernya nggak kayak gitu.

Kegiatan dalam bentuk komunitas tuh banyak banget keuntungannya. Sebut aja bisa jadi sarana buat menambah teman. Dalam komunitas otomotif pastinya kita bakal ketemu dengan teman-teman lain yang hobinya sama. Kesamaan hobi ini bikin siapa aja yang tadinya enggak saling kenal bisa jadi akrab.

“Tujuan dibentuknya Jakarta Satria Club (JSC) adalah mengakrabkan para pengguna motor Suzuki Satria yang emang banyak. Akhirnya sejak terbentuk sampai saat ini jumlah anggota kami sudah mencapai sekitar 200 orang. Semuanya rata-rata saling kenal dan sering kumpul bareng,” kata Arief Nuryulianto dari JSC, komunitas khusus pengguna motor Suzuki Satria.

Keuntungan lain adalah berkembangnya pengetahuan soal dunia otomotif. Dalam sebuah komunitas otomotif, obrolan yang sering muncul di antara para anggota pasti nggak jauh-jauh dari hobi tersebut. Pastinya masing-masing anggota punya ilmu atau pengetahuan yang lebih banyak tentang dunia otomotif. Baik itu soal produk terbaru otomotif, aksesori, mesin, sampai informasi-informasi lainnya. Makanya lewat pertukaran informasi antaranggota, pengetahuan pun makin bertambah luas.

“Para pemakai mobil Toyota Kijang, yang sebelumnya kurang mengerti soal mobil yang dipakainya, setelah bergabung dengan komunitas Toyota Kijang Club Indonesia (TKCI) bisa mengerti soal mobilnya. Atau malah bisa mengatasi sendiri kalo ada masalah kecil yang terjadi dengan mobilnya,” kata Fachrul Kamil, anggota senior TKCI, komunitas khusus pemakai mobil Toyota Kijang.

Lalu kalo ada yang masih melihat kegiatan komunitas otomotif tuh nggak banyak positifnya, jelas bisa dibantah. Hampir seluruh komunitas otomotif yang kebentuk, baik komunitas motor maupun mobil, punya kegiatan rutin menggelar bakti sosial (baksos). Kegiatan ini biasanya ditujukan buat memberikan sumbangan ke panti-panti asuhan atau siapa aja yang kurang mampu. Lantas ada juga komunitas yang kegiatannya ditujukan buat memberantas narkoba.

Kedengarannya kegiatan yang barusan tadi cukup muluk. Tapi bukannya nggak mungkin emang bisa dilakuin lewat kegiatan komunitas. Pasalnya buat menjalankan kegiatan, apalagi kalo rutin, hampir pasti seluruh anggota sibuk meluangkan waktu dan menyisihkan tenaga buat menyukseskan program komunitas. Buntutnya waktu mereka buat melakukan kegiatan lain yang menjurus negatif bisa dihindarkan. Intinya jangan sampai ada waktu yang terbuang percuma dan bisa terganggu pengaruh buruk.

Asiknya lagi, nggak semua komunitas otomotif mengharuskan siapa pun yang pengen bergabung mempunyai mobil atau motor. Kalo emang berniat ikutan dan punya minat yang besar soal otomotif, ada komunitas yang mau menerima sebagai anggota. Yang penting bisa sharing soal pengetahuan di dunia otomotif.

Contoh kegiatan lain dari hobi otomotif yang udah ada dari dulu adalah balapan. Sejak masih ngetopnya Sirkuit Ancol hingga sekarang ini udah beralih ke Sirkuit Sentul, jumlah peminat balap menunjukkan jumlah yang terus bertambah. Malah yang ikutan balapan sekarang ini nggak cuma mereka yang udah berniat profesional di bidang itu. Banyak juga pembalap pemula yang masih umuran sekolah mulai ikutan.

Buktinya aja pada event kompetisi balap mobil nasional sekarang ini udah dibuka kelas khusus buat mereka yang berstatus pelajar atau mahasiswa. Kelas ini diistilahkan dengan student race. Contohnya ada pada kejuaraan seri nasional yang digelar di Sirkuit Sentul hari Minggu (11/7) lalu. Pada kejuaraan tersebut, sejumlah delapan peserta yang terdiri dari pelajar SMA dan mahasiswa turut ambil bagian.

Emang sih jumlahnya belum begitu banyak. Tapi aksinya cukup seru dan nggak kalah kalo dibandingkan dengan kelas yang senior. Hebatnya lagi pada kompetisi tadi, yang berhasil jadi juara pertama adalah pelajar kelas II, SMA 112, Kebon Jeruk, Jakarta, bernama Indra Nugraha. Padahal, lawan-lawannya kebanyakan udah berstatus mahasiswa dan hanya satu peserta aja yang statusnya sama-sama masih pelajar SMA.

“Gue udah mulai balapan sejak SMP. Awalnya emang karena gue yang kepengen dan kebetulan orangtua mendukung,” kata Indra seusai balapan.

Yup, buat menggeluti hobi balap ini, dukungan yang paling penting tentu aja dari orangtua. Bukan kebetulan kalo bokapnya Indra ini juga seorang pembalap senior dan masih aktif hingga saat ini. Tapi kenyataannya, bukan bokapnya yang memaksa Indra buat ikutan balapan. Emang dasarnya udah hobi.

Selain dukungan dari orangtua, yang paling penting lagi buat menggeluti hobi balap adalah adanya dukungan sponsor. Pasalnya, biaya yang dibutuhkan buat sekali membalap aja termasuk mahal. Minimal butuh biaya Rp 5 juta, itu juga dengan catatan mobil yang dipake buat balapan udah siap diturunkan. Biaya tadi adalah buat mempersiapkan spare parts cadangan, biaya mekanik, dan sewa pit. Kebayang kan berapa biaya total yang dibutuhin kalo persiapannya harus dimulai dari awal banget?

Mungkin biaya mahal ini yang bikin pembalap-pembalap yunior yang turun di kelas student race nggak begitu banyak. Makanya termasuk luar biasa kalo ada teman kita yang masih SMA udah mendapat sponsor buat membiayai keikutsertaannya pada kompetisi ini. Salah satunya adalah Arga, pelajar kelas I, SMU Sumbangsih.

Sama halnya kayak Indra, temen kita ini udah mulai balap-balapan sejak masih tingkat SMP. Udah gitu sejumlah prestasi yang lumayan berhasil diraihnya. Makanya nggak heran kalo ada sponsor yang tertarik buat membiayai penampilannya di arena balap. Pada saat turun balapan di kelas student race kemarin ini, Arga disponsori oleh produk clothing asal Perancis, Noir Sur Blanc.

“Gue bisa dapet sponsor ini karena mereka itu klien nyokap gue. Tapi mereka juga udah melihat sejumlah prestasi gue, makanya mereka mau ikutan. Tadinya ada beberapa sponsor lagi yang mau ikutan, tapi belum deal aja,” kata Arga.

Nggak heran juga dengan adanya sponsor ini, Arga berani ikutan turun di kelas yang sebenernya buat pembalap- pembalap senior, kelas N. Di kelas ini Arga harus bersaing dengan pembalap-pembalap top, macam Chandra Alim dan Aswin Bahar. Bisa ketebak kalo skill Arga masih kalah jauh dibandingkan dengan pembalap-pembalap tadi dan gagal membukukan prestasi baik. Tapi bukannya nggak mungkin, kalo kemampuannya terus diasah, Arga bakal bisa bersaing di masa mendatang.

Mungkin ada juga teman-teman kita yang sebenernya nggak bermasalah soal biaya buat ikutan balapan. Hanya saja mereka nggak begitu tertarik buat melakoni hobi otomotifnya di arena balap. Sebaliknya mereka lebih suka bermain di elemen lainnya, yaitu modifikasi.

Banyak banget perubahan atau modifikasi yang bisa dilakuin pada mobil atau motor. Mulai dari penampilan eksterior, interior, audio, sampai mesin. Masing-masing modifikasi ini ada penggemarnya, atau ada juga yang menggabungkan semua unsur modifikasi pada kendaraan andalannya. Singkatnya sesuai dengan selera aja.

Buat modifikasi eksterior aja, masing-masing temen kita punya selera yang beda. Pasalnya modifikasi eksterior sendiri bisa dibagi-bagi ke dalam sejumlah gaya lagi. Ada yang dinamakan gaya elegant, yaitu yang mengubah penampilan mobil layaknya mobil-mobil mewah. Lalu gaya touring, yang mengubah penampilan layaknya mobil-mobil balap. Lantas ada juga yang mengubah drastis penampilan mobil yang disebut dengan gaya ekstrem.

Modifikasi penampilan motor pun nggak jauh berbeda. Ada yang mengubah penampilan motornya dari standar jadi bergaya racing. Selain itu, ada juga yang sukses mengaplikasikan gaya modifikasi ceper yang tadinya cuma ada pada mobil di motornya. Emang nggak banyak bagian dari motor yang bisa dimodifikasi. Tapi kalo kreatif, apa aja pasti bisa dilakuin. Contohnya kayak membuat penampilan terlihat lebih kinclong dengan cara melapisi krom bagian-bagian yang terbuat dari logam.

Buat interior mobil, gaya modifikasi yang dilakuin para modifikator sebenernya nggak banyak berbeda. Yang paling umum adalah mendandani bagian dalam mobilnya dengan lapisan kulit. Cara ini menjadikan tampilannya terlihat agak mewah. Tapi ada juga yang mengombinasikan dengan penampilan bergaya balap. Contohnya dengan mengganti setir, shift knob (tuas persneling), atau panel dashboard bergaya mobil sport.

Pengubahan sektor audio bisa dibilang termasuk wajib buat temen-temen kita yang hobi modifikasi. Pasalnya kualitas audio yang mantap bikin berkendaraan jadi makin asik. Makanya belakangan ini mulai banyak yang mengganti radio tape mobil dengan model CD player. Ada juga yang memasang televisi mini. Malah biar kualitas audio lebih canggih, ada juga yang rela menggusur bangku belakang mobilnya buat digantikan dengan tumpukan speaker dan sub-woofer.

Sedangkan bagi yang lebih suka dengan modifikasi mesin adalah mereka yang hobi menggeber kecepatan. Sayangnya kebanyakan dari mereka ini nggak melampiaskan hobinya itu di arena balap resmi. Sebaliknya malah melakukan kesenangannya itu di jalanan umum dengan cara ikut balapan liar. Sekarang ini yang lagi marak adalah balap liar motor. Sejumlah ruas jalan di beberapa kota besar Indonesia tercatat sering dijadikan tempat balap liar motor. Balap liar mobil juga ada, tapi jumlahnya nggak sebanyak balap liar motor.

Nah, buat memuaskan hobi modifikasi ini sebenernya butuh biaya yang kadang nggak sedikit. Malah ada juga temen kita yang ngelakuin modifikasi mobil dengan biaya yang jauh melebihi harga mobilnya sendiri. Contohnya adalah teman kita bernama Nuel, pelajar kelas III, SMP Ora et Labora, BSD, Tangerang. Buat modifikasi mulai dari bagian eksterior, interior, audio, sampai mesin mobil Toyota Starlet tahun 1990 miliknya, biaya yang dikeluarin mencapai Rp 112 juta!

“Gue udah suka modifikasi sejak kelas 1 SMP. Awalnya sih gue cuma main di mesin gara-gara hobi balap. Tapi gue mulai modifikasi bagian lainnya setelah bosen balap-balapan. Sebenernya modifikasi mahal kayak gini tuh gara-gara nyokap gue yang nyuruh. Katanya biar mobil kelihatan lebih keren,” aku Nuel.

Hmm, enak deh kalo lagi-lagi ada dukungan dari orangtua buat muasin hobi otomotif. Biaya semahal apa pun nggak jadi masalah. Banyak juga temen kita yang termasuk beruntung kayak Nuel ini. Tapi ada juga yang kesulitan soal biaya lantaran orangtua nggak begitu setuju sama hobi modifikasi. Contohnya temen kita bernama Tito, pelajar kelas II, SMUK 7 Cipinang, Jakarta. Buat memodifikasi mobil Toyota All New Great Corolla tahun 2001 miliknya dengan gaya ekstrem harus melalui cara yang agak sulit.

“Gue nggak pernah bilang kalo minta duit tuh sebenernya buat modifikasi mobil. Makanya bokap kaget banget waktu ngelihat mobil gue yang udah dimodifikasi. Dia bilang mobil gue jadi mirip gerobak,” cerita Tito, sembari terkekeh.

Sebenernya hasil modifikasi yang dilakuin Tito nggak jelek-jelek banget sampe dibilang mirip gerobak. Malah keren abis dengan gaya ekstremnya. Udah gitu, buat sektor audionya aja, Tito sampe memasang total 17 speaker di dalam mobilnya. Bayangin aja gimana tampilannya tuh!

Jelas deh kalo hobi otomotif makin marak aja belakangan ini. Pasalnya elemen-elemen dari hobi ini yang bisa dipilih dan dilakonin cukup banyak. Makanya nggak ada halangan bagi siapa aja yang punya hobi di bidang ini buat terjun ke dalamnya. Malah kalo lebih kreatif lagi, elemen-elemen tadi bisa aja dikembangin biar lebih asik lagi. Kalo bisa, bikin sesuatu yang menghasilkan dari situ.

Contohnya aja kayak temen kita, Deva, yang baru aja lulus dari SMA 82, Jakarta. Temen kita ini memanfaatkan hobi dan pengetahuannya soal otomotif buat mendapatkan tambahan uang saku. Caranya tuh membantu temen-temen yang pengen modifikasi buat mencari bengkel dan aksesori dengan harga yang cukup terjangkau. Lagi pula, temen kita ini punya koneksi cukup banyak. Kalo usahanya ini lancar, bukannya nggak mungkin di masa mendatang bisa buka usaha otomotif sendiri.

Yah, kira-kira udah segitu jauhnya perkembangan hobi otomotif di kalangan remaja saat ini. Hobi yang asik dan seru banget. Pilihannya pun banyak, dari yang paling gampang sampai yang termasuk berat. Tentuin aja sesuai dengan kemampuan.

DONNY TRIANTO TIM MUDA.

 

Punya hobi yang menantang? Siapa Takut.. June 2, 2008

Filed under: Uncategorized — 5excellent @ 10:52 am

“Surfing”
Hobi Murah Penghasil Duit

Let\'s Surf..

Surfing bisa jadi pilihan hobi menarik. Biaya sekolah ditanggung, dapat uang bulanan, bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis. Sayangnya, belum banyak yang tertarik untuk menjalani hobi ini.

Dion Pardamaian Wau dan Ribut Wahyudi, dua surfer muda di Bali yang baru lulus SMU Kuta Pura, Kuta, Bali, bisa mendapatkan uang saku dari sponsor paling tidak Rp 700 ribu per bulan. Bagaimana caranya? Sponsor, man. Dion saat ini terikat kontrak dengan Kuta Line, Bali Barrel Surf Shop, dan Bajak Laut Support. Setiap bulannya, dia dapat uang saku Rp 700 ribu dan pakaian (t-shirt, celana, topi) empat kali. Lalu tiap tahun, Dion boleh ganti papan empat kali. Biar ngiler, nih. Harga satu potong pakaian paling murah seratus lima puluh ribu perak. Lalu harga satu papan sekitar 500 dolar Amrik atau sama dengan 4 juta rupiah. Mau lebih ngiler? Dion rencananya akan ke Aussie Oktober nanti, lalu ke Jepang untuk mencoba ombak di dua negara tersebut. Gratis!

Cerita Ribut tak kalah asyik. Sejak 1998 lalu, cowok kelahiran 8 Juli 1984 itu terikat kontrak dengan Spyderbilt, salah satu produsen pakaian juga. Ribut mendapatkan duit bulanan Rp 850 ribu per bulan dan biaya sekolahnya ditanggung sponsor. Selain, tentu saja, pakaian. Untuk papan surfing, cowok berambut cepak ini rutin dapat dari Three O Three. Sebelum itu, Ribut juga terikat kontrak dengan Quality, produsen pakaian surfing, dan Climbone, produsen aksesori surfing. Asyiknya lagi, dari berselancar ini Ribut pernah dapat tiket gratis berangkat ke Australia dan Jepang.

Pastinya tidak mudah mendapatkan sponsor. Untuk mendapatkannya tergantung pada relasi sesama rider (bahasa lain dari surfer) dan prestasi. Ribut langsung mendapatkan sponsor ketika juara pertama dalam lomba surfing se-Bali pada 1998. Padahal itu keikutsertaannya yang pertama dalam lomba. Dia langsung dikontrak Spyderbilt hingga akhir 2003 nanti. Berbagai prestasi kemudian diraihnya dalam kejuaraan surfing. Beberapa di antaranya Juara IV pada Om Tour Volcom Indonesia-Jepang Surfing Contest (2000), Juara III pada Billabong Surfing Contest (2002), dan Juara I Three O Three Surf Board Contest di Jepang (2002).

Adapun Dion pernah tiga kali masuk final di Om Tour Volcom Indonesia-Jepang Surfing Contest, masuk final Grommet Surfing Contest, dan masuk sebagai 15 pemain pro junior terbaik versi Billabong. Makanya enggak usah heran kalau mereka dengan mudah mendapatkan sponsor. Memang jago, sih!

Awalnya ogah

Kehebatan mereka tidak datang dari langit. Malah, awalnya Ribut dan Dion mengaku ogah dengan olahraga air ini. Perkenalan pertama mereka dengan surfing terjadi 11 tahun lalu.

Dion kenal surfing dari orangtua angkatnya, I Ketut Menda. Oleh salah satu surfer profesional di Bali itu, Dion dibawa dari tempat asalnya di Pulau Nias, Sumatera Utara, ke Bali. Sampai di Bali, dia mulai belajar surfing di Pantai Kuta. Pantai tersohor di seantero jagat ini memang bagus untuk belajar surfing. Pertama, karena dasarnya yang pasir. Kedua, karena ombaknya tidak terlalu besar. Ketiga, karena lokasinya dekat. Dan, terakhir karena ada penjaga pantai. Jadi, kalau terseret ombak misalnya, akan ada yang menolong.

Sebulan pertama Dion mengaku tersiksa dengan latihan yang harus dijalani. Kepala pusing, kulit mengelupas, dan matanya perih karena sinar matahari dan air laut. Saking perihnya selalu mengeluarkan air dan pas sekolah tidak bisa baca. Rambutnya pun berubah pirang. “Teman-teman sekolah sering mengejek apa enaknya jadi surfer,” aku penggemar musik-musiknya Blink 182 ini.

Selama dua tahun, Dion belajar dengan didampingi bapak angkatnya. Tempat favoritnya di Half Way, sebuah point di Pantai Kuta. Point ini hingga saat ini jadi home break dan tempat favoritnya bersama Ribut. Kebetulan rumah mereka juga dekat Pantai Kuta.

Begitu sudah bisa surfing mereka jadi ketagihan. Tiada hari tanpa surfing. Ketika SMP, karena masuk sekolah pagi, pukul satu siang mereka baru nyebur ke pantai. Namun, begitu SMU, mereka bisa melakukannya sebelum sekolah lantaran jam masuk sekolahnya siang.

Setelah dianggap bisa, mereka dilepas pelatihnya masing-masing. Berbagai tempat di Bali pun dicoba. Pantai di Bali memang menyajikan banyak ombak yang bagus untuk surfing. “Secara keseluruhan, tidak ada tempat di mana pun di dunia yang ngalahin bagusnya ombak di Indonesia,” kata Piping yang sudah menjelajah berbagai pantai di Indonesia antara lain Nias dan Mentawai (Sumatera), Cimaja (Bandung Selatan), hingga Neumbrella (Nusa Tenggara Timur).

Di Bali sendiri bertebaran tempat yang asyik untuk surfing. Mulai dari Medewi, Canggu, Seminyak, Legian, Kuta, Serangan, Dreamland, Padang-padang, Uluwatu, dan banyak lagi. Masing-masing menyajikan tantangan ombak berbeda-beda. Bagi Ribut dan Dion, tempat favorit selain di Half Way, Kuta adalah di Canggu.

Modalnya papan dan pakaian

Surfing tergolong olahraga murah meriah. Kalau sekadar hobi, cukuplah papan surfing dan pakaian. Papan baru, kata Dion, bisa kita beli bekas dengan kondisi bagus. Harganya paling mahal satu juta perak. “Kalau teman sendiri bisa di bawah itu,” katanya serius. Selain itu, tinggal celana. Kalau mau yang khusus surfing harganya sekitar Rp 150 ribu. Tapi, celana biasa juga it’s ok.

Dion dan Ribut juga modal awalnya cuma itu. Tapi, lamalama mereka mulai menambah “daya keren” papan mereka dengan berbagai aksesori yang mereka dapat dari sponsor, seperti leg rope (tali kaki) dan grips (pijakan kaki). Harganya sih lumayan. Leg rope berkisar Rp 200 ribu sedangkan grips sekitar Rp 300 ribu.

Modal lain yang kelihatannya sepele, tapi mempengaruhi keputusan kita ikutan surfing adalah: takut kulit berubah warna. Padahal berubah warna kulit itu jadi enggak penting begitu kita merasakan nikmatnya berdiri di atas papan, naik turun ombak, bikin style, dan macam-macam lagi. Dion sampai mengaku lebih bisa mengikuti pelajaran di sekolah setelah surfing, “Kalau saya enggak surfing sehari saja, bisa stres.” Tak berbeda, Ribut bilang, “Surfing bisa me-refresh-ing otak kita dari kejenuhan sehari-hari.”

Hanya itu? Ada satu lagi yang lebih penting: keyakinan. Kenali surfing, lalu yakini. Sesuatu yang dilakukan dengan yakin, hasilnya akan luar biasa. Seperti yang sudah dialami oleh Dion dan Ribut. Sponsor, uang akan datang sendiri. Itu semua hanya akibat dari keyakinan dan kesungguhan kita.

Berani mencoba bercanda dengan ombak di atas papan? Silakan.

ANTON MUHAJIR Mahasiswa Program Studi Teknologi Pertanian (PSTP), pernah aktif di Persma Akademika Universitas Udayana Bali

 

Mari membuat pot keramik… June 2, 2008

Filed under: Uncategorized — 5excellent @ 10:45 am

Hai rekan-rekan yang berbahagia…

Di post kami sebelumnya, kami telah menampilkan artikel mengenai hobi kerajinan tangan. Nah, untuk menambah semangat rekan-rekan dalam menggali potensi hobi, kali ini kami akan menampilkan video pembuatan pot keramik. Semoga bermanfaat ya… Enjoy!

Mau duit??